Pelangi Abu-Abu

Aku ingin berlari
Namun angin menghadangku
Aku ingin terbang
Namun bumi mengikatku
Aku ingin mencarimu
Namun langit menertawakanku
Aku ingin bertemu
Namun ruang dan waktu mencegahku
Aku ingin mencintaimu
Namun diriku sendiri meragukanku

Advertisements

Kakak dan Rintik Hujan

Kau pernah sekali punya mimpi
Dan kau dapati dirimu
Kala itu
Berdiri didepannya
Kau peluknya dengan senyum yang terbata

Namun langit tak mengizinkannya
Direnggutnya darimu
Mimpi itu
Pergi tanpa kata
Perlahan raib dari pandangan mata

Kau ambil supucuk surat itu
Cahaya dalam gelapmu
Harapanmu
Yang terlahir renta
Kini terkubur dalam kelamnya duka

Rasa Manis Pahitnya Secangkir Kopi

Siang ini di kedai kopi.
Hujan turun.
Kau lempar pandang ke luar jendela.
Dedaunan menggigil.
Mereka tidur berselimut dingin.
Ranting-ranting seakan tak peduli.
Dengan asik mereka menari.
Segembira itukah mereka?
Seberapa mengerti engkau?
Seberapa paham aku arti senyuman itu?

Sejenak kau beralih kepada secangkir kopi.
Warna cokelat yang sama.
Rasa manis yang sama.
Cangkir yang sama.
Merah terang bergambar bunga.
Kau genggam dengan kedua tangan disisi.
Aku mengerti.

Sejak siang itu tak lagi kau pesan kopi hitam.
Memang tak pernah kau bercerita.
Namun dari caramu menggenggam cangkir merah itu,
yang kau cari tak sekedar rasa manis bukan!
Tapi seberapa kau paham,
rasa manis dari pahitnya secangkir kopi.
Begitulah caramu mendengar nyanyian itu.
Dedaunan yang menggigil bahagia dibawah rintik hujan.

Logika Indahmu

Kau berbisik,
“Indah bukan!”
Di malam sepi.
Bulan bersembunyi.
Bintang-bintang pun pergi.
Hanya awan hitam perlahan menghampiri.

Aku tak tau apa jawabnya.
Engkau juga tak butuh sepotong kata.
Yah, memang indah tidaklah angka,
atau bahasa konkrit susunan kata.
Kau tak perlu gunakan logika algoritma.
Cukup lihat dan baca.
Ketika alam memainkan perannya.
Menyanyikan lagu yang disebut semesta.
Mereka istimewa,
sangat istimewa.
Seperti dirimu yang selalu membaca.
Bahkan kau eja logika indahmu,
di malam sepi tanpa cahaya.

Hujan di Sore Itu

M.M
============
Sore ini langit membiru.
Angin berhembus membelai perdu.
Daun menari dalam detik nada waktu.
Mentari tersenyum hangat warnai awan kelabu.
Sore ini alam berpadu dalam harmoni.
Hangat memeluk lelah mata hati.
Indah sekali,
Seindah ingatan yang takkan pernah layu,
tentang sore itu.
Ketika aku duduk disampingmu.
Termenung dalam syahdu,
Menikmati palem yang melambai malu,
kepada burung gereja yang manis tersipu.
Kau pandang langit dengan harapan.
Berorasi dalam diam.
Merapal mantra ajaib dari tuhan.
Lalu kau ukir berjuta mimpi terlarang,
di atas gulungan awan putih yg menghitam.
Hujan pun menerjang.
Kita tinggalkan sore itu,
terpisah ruang dan waktu.

Pesan dari Salju

M.M
============

Salju turun dibawah gemerlap bintang.
Diam menyelinap membawa kenang.
Mengetuk jendela kacamu yang usang.
Kau terbelalak dalam tenang.
Ia berbisik menceritakan petang.
Negeri dingin yang tak kenal terang.
Tak ada apapun kecuali senyummu yg tertelan bayang.

Akankah terjawab rintih sebatang tanya,
sedangkan tanganmu telah lupa segalanya.
Terjebak dalam semu ruang waktu yang hampa.
Tak lagi kenal mana gelap mana cahaya.
Bahkan ia lupa akan hangat salju putih yang menyapa.
Duduk bersimpuh dibalik jendela kaca.
Tertunduk lesu membacakan berita duka.